Sendiri tapi tak ditemani sepi
Hem… Jam 6 pagi, Selasa, 15 Maret 2011. Masih sulit rasanya terbebas dari cengkraman selimut tebalku. Tapi akhirnya ku mampu beranjak untuk mandi pagi hari ini. Yah, ada tugas yang mengharuskanku keluar jauh dari rumah menuju Wonosari, tepatnya di SMA 1 Wonosari untuk bertemu dengan salah satu guru Biologi di sana. Tak lain dan tak bukan hanyalah demi mendapatkan beberapa carik kertas berjudul RPP dan Silabus. Telat 25 menit dari jadwal pertemuan yang direncanakan, tapi tak apalah ibu guru itu begitu pengertian. Sejenak berbincang akhirnya pertemuan itu berakhir. Aku pun kembali menaiki kuda besiku menuju kampus.
Masih ada waktu untukku bernostalgia di tempat aku dilantik menjadi anggota BIONIC tahun 2009 silam. Mampirlah aku di Tahura Bunder Gunung Kidul. “Daripada kubuang waktu bolos kuliahku di jam pertama mending tak buat lihat burung aja”. Begitulah niatku. Menyusuri jalanan di tengah Tahura dengan motor, sesekali harus kumatikan deru mesin yang terdengar sangar itu. Sampai saat ku putuskan untuk benar-benar berhenti, menyetandarkan motor, lalu berjalan sambil clingak-clinguk menerawang pepohonan. Sayang binoculer yang selalu menemaniku ketika blusukan kini hanya tergeletak di kamarku bersama barang terserak lainnya.
Tepat di pinggiran Sungai Oya, ada tukang yang sedang mencari rumput bertanya “Sek napa Mas? Ajeng adus napa?”(Lagi apa Mas? Mau mandi ya mas?). Jawabku dalam hati “Asem, po rupaku ketok rung adus po piye?”(Asem, apa mukaku kelihatan seperti orang belum mandi?) padahal aku jelas memakai celana kain klimis, sepatu hitam mengkilat, dan jaket dengan cukup rapi. Tapi jawabku dengan jujur, “Mersani peksi Pak.”(Mengamati burung Pak). Begitulah kumenjawab sembari melenggangkan kaki untuk menelisik pepohonan.
Meskipun hanya sendirian, tapi tak ditemani sepi. Justru sebaliknya. Suara alam yang didominasi kicauan merdu hewan berbulu ini begitu meramaikan hatiku. Beberapa jenis burung dapat kulihat dengan jelas dan kudengar suara khas yang mereka punya. Sepah kecil/Small Minivet (Pericrocotus cinnamomeus) acap kali terlihat dalam kawanannya. Cipoh kacat/Common Iora (Aegithina tiphia) hampir selalu terdengar nyanyian “sirrrrrr……..tu”nya. Dua ekor Kapasan/Triller (Lalage sp) yang berada di dahan dengan daun yang cukup lebat, meskipun dapat terlihat namum karena hanya bermodalkan alat indera pemberian Sang Pencipta ini, akhirnya tak dapat kuputuskan. Kapasan Kemiri/Pied Triller (Lalage nigra) atau Kapasan Sayap Putih/White-shouldered Triller (Lalage sueurii) kah, mengingat kedua jenis ini memang sulit dibedakan. Cucak Kutilang/Sooty-headed Bulbul (Pycnonotus aurigaster), Merbah Cerukcuk/Yellow-vented Bulbul (Pycnonotus goiavier), Kepudang Kuduk-Hitam/Black-naped Oriole (Oriolus chinensis), Cekaka Jawa/Javan kingfisher (Halcyon cyanoventris), Bubut Jawa/Sunda Coucal (Centropus nigroruvus), serta Remetuk Laut/Golden-Bellied Gerygone (Gerygone sulphurea) seolah berebut memamerkan suara mereka untuk masuk ke telingaku. Yang cukup menyegarkan ingatan saat melihat beberapa ekor Kirik-kirik Laut yang seliweran menyambar serangga. Tadinya kupikir hanya ada Kirik-kirik Senja/Chesnut-headed Bee-eater (Merops leschenaulti) saja yang sedari tadi teramati namun tak berapa lama dengan jelas terlihat kirik-kirik dengan bulu ekor tengah yang memanjang dan berwarna biru serta tenggorokan kuning dengan warna coklat sebagai batas dengan perutnya. Barulah ku sadar. Ternyata Kirik-kirik Laut/Blue-tailed Bee-eater (Merops philippinus). Jenis inlah yang dulu terlihat berkerumun dengan sejenisnya ketika Gelatik 2009 silam. Benar-benar nostalgia dalam kesendirian yang ramai.
Anda tak perlu percaya 100% dengan apa yang baru saja saya ceritakan. Apresiasi dari Anda sudah lebih dari cukup bagi Saya. Jika anda ingin percaya 100%. You have to check it! Check it by yourself! Setidaknya begitulah pesan yang berhasil kudapat saat bertemu Bapak (atau lebih tepatnya Simbah) Soekarja Somadikarta.
Salam Lesatri. Live with the living things, make life more than life.
First Time in Kinahrejo
26 Desember 2009
Diawali rencana orang-orang berpengalaman Bionic, sebut saja kang Imam, kang Aan alias PakDe, kang Jarot, dan kang Hafidz yang ingin bernostalgia pengamatan di Kinahrejo. Merasakan romantisme masa lalu, katakanlah seperti itu. Aku pun mencoba mencari informasi tentang kabar itu dan akhirnya ikutlah aku bernostalgia dengan mereka meskipun bagiku tidak ada yang dinostalgiakan. “Apa yang dinostalgiakan? la wong baru pertama kali ini!”, kataku.
Mereka berempat berangkat dari BBC (Bionic Base Camp) sedangkan aku lepas landas langsung dari rumah menuju TKP (Tempat Kejadian Pengamatan). Mereka sempat menungguku di tengah perjalanan cukup lama namun akhirnya sebelum masuk tempat pemungutan retribusi kami sudah bersama. Menujulah kita ke tempat Mbah Hadi tempat yang biasa dijadikan transit para pengunjung Kinahrejo. Lima gelas teh hangat pun disajikan untuk kami. Sedikit berbincang dengan Mbah Hadi yang masih bersaudara dengan Juru Kunci Merapi Mbah Maridjan tentang cuaca dan hal-hal yang cukup hangat saat itu sambil menikmati teh yang hangat pula. Tak lama kemudian PakDe pamit ke belakang untuk mengurangi beban yamg di bawanya. Aku pun ikut-ikutan ke belakang. Sempat bingung sebenarnya bau apa yang sedang terdeteksi oleh hidungku ini. Apakah bau kandang kambing atau sapi yang terletak di sebelah kamar kecil ataukah kamar kecil di sebelahku? Benar saja ternyata sumber amonia itu berasal dari Pakde yang sedang membuang sampahnya. Selesai membuang sampah aku dan pakde pun sempat ngobrol sebentar masalah sapi yang di pelihara mbah Hadi. Kami berlima pun mulai pamit Mbah Hadi untuk memulai pengamatan dan naik jalur pendakian. Baru berada di depan rumah Mbah hadi seekor raptor pun teramati sedang ber“soaring”. Cukup tinggi juga sehingga kami belum dapat memutuskan spesies apa itu. Berlanjut masuk ke jalur pendakian, suara si paruh bengkok Psittacula alexandri mengiringi hampir setiap langkah menanjak kami. Sayang cuaca kurang mendukung, kabut yang cukup pekat menyelimuti perjalanan kami. Sebentar kabut hilang sebentar lagi datang dari arah selatan. Spot yang kami tuju adalah Bukit Bionic, begitu kami menyebutnya meski aku pun juga belum pernah ke tempat ini.
Kami berangkat menelusuri jalur sebelah barat bukit. Dalam perjalan sesekali berhenti untuk menunggu pergerakan mencurigakan. Benar saja meski berkabut namun ada beberapa spesies yang bagiku sungguh menakjubkan, baik yang pernah kuamati maupun belum, semuanya serasa menambah kesejukan lereng merapi ini. Sebut saja musik pengiring perjalanan kami Psittacula alexandri, warna perjalanan kami si kuning Oriolus chinensis, sajian pertempuran udara sang raptor yang umum di temukan Spilornis cheela yang ternyata kalah oleh kurcaci angkasa si segitiga Artamus leucorhynchus, kemajemukan warna Halcyon cyanoventris, dan sang loly pop Lanius schach. Eit… tunggu dulu ada satu spesies baru bagiku. Sikatan Mugimaki (Ficedula mugimaki) dengan sajian warna hitam bagian atas dan orange pada bagian bawahnya, coretan putih di belakang mata, dan garis putih menjari di bagian sayap. Sungguh sajian parade alam yang tak mampu dibuat manusia manapun. Sungguh betapa mencukupinya bahkan berlimpah rahmat yang Engkau berikan Ya Allah, namun kenapa masih saja ada yang menyeruak merampas sajian agung-Mu ini tanpa memandang Keberadaan-Mu. (more…)
Lets go….!
Memulai itu memang berat. Awal yang kosong mungkin akan jauh lebih mudah dibanding saat sudah mendapatkan embel-embel prioritas. Yah, setidaknya itulah satu hambatan untuk memulai. Oleh karenanya.. mari kita mulai….
apa pun yang belum atau sedang kita laksanakan. Maka… Bergeraklah……
